Selama bulan Juni sampai Agustus ini, saya dituntut untuk memiliki tenaga dan kesabaran ekstra. Bulan bulan tersebut biasanya akan banyak kegiatan bimbingan dan ujian sidang mahasiswa diploma. Hampir tiap hari disodori sebuah gambar yang mungkin untuk sebagian dosen terutama saya, kalau mau jujur sudah sangat bosan. Bayangkan saja waktu kuliah S2 dulu ngubek-ngubek gambar ini. Kerja di IPTN melototi gambar ini. Mengajar di Bandung juga berkoar-koar tentang gambar ini. Kalau sedang ‘mroyek’ juga merangkai-rangkai gambar ini. Sekarang di IPB sering ditanya, terutama oleh mahasiswa, tentang gambar ini.
Sebenarnya gambar ini sederhana saja. Hanya terdiri dari sebuah bulatan, beberapa persegi empat, dan beberapa anak panah yang berasal dari persegi empat tersebut menuju ke bulatan atau sebaliknya. Banyak literatur menyebutnya context diagram (diagram konteks). Ada yang menyebutnya sebagai Data Flow Diagram Level 0 (disingkat DFD level 0). Terserah, asal konsisten saja. Tapi jangan tanya… diagram konteks ini bisa bikin mahasiswa ngedumel, jengkel, campur mangkel…Habis tiap bimbingan sama saya gambar ini yang dicoret melulu. “Salah lagi, salah lagi…. Yang bener gimana sih, Pak ?”
Orang-orang yang pernah belajar Rekayasa Perangkat Lunak atau Sistem Informasi pasti akrab dengan istilah Diagram Konteks ini. Diagram ini digunakan untuk menggambarkan ruang lingkup sistem atau bagaimana sistem tersebut berinteraksi dengan lingkungannya. Sistem digambarkan dengan bulatan. Sedangkan lingkungan diwakili oleh entitas luar yang digambarkan dengan persegi. Interaksi antara sistem dan entitas luar direpresentasikan oleh aliran data yang digambarkan dengan anak panah mengalir dari entitas luar ke sistem (sebagai input) atau sebaliknya dari sistem ke entitas luar (sebagai output).
Yang menarik menurut saya adalah, pada banyak literatur, kita tidak boleh menggambarkan aliran data dari entitas luar yang satu ke entitas luar yang lain. Ini yang sering membuat saya agak kesal setiap kali melihat kesalahan ini diulang-ulang oleh mahasiswa. Mereka menggambarkan seluruh interaksi sehingga batasan sistem menjadi kabur. Interaksi antar entitas luar ini tidak perlu digambarkan karena interaksi tersebut berada di luar konteks sistem. Jadi diagram konteks mengajarkan untuk fokus pada entitas luar yang benar-benar berinteraksi dengan sistem. Soal apakah antar entitas luar saling bertukar informasi, tidak perlu dipedulikan !
Sedang asyik memikirkan diagram konteks tiba-tiba fikiran saya melocat ke kisah infotainment yang beberapa bulan yang lalu pernah digugat dan diharamkan oleh fatwa NU. Acara ini dinilai menyuburkan budaya gosip dan menyebarkan aib orang lain, suatu kebiasaan buruk yang kontraproduktif. Tapi seperti biasa kalangan pendukung atau konseptor acara ini tampil dengan berbagai dalih dan argumentasi untuk meyakinkan bahwa acara ini tetap layak untuk ditampilkan. Entah apa alasannya, yang jelas banyak ibu-ibu dan remaja-remaja sampai saat ini masih setia menikmati acara ini.
Saya tidak ingin berpanjang-panjang dengan infotainment, yang ingin saya ceritakan adalah sadar atau tidak sadar- meskipun tidak pernah sengaja menonton infotainment, saya ternyata sering memiliki perilaku yang serupa. Di tempat kerja saya masih sering begitu ingin membicarakan kelemahan dan kesalahan orang lain. Bahkan yang terparah adalah saya kadang-kadang masih merasa begitu gundah dan ingin selalu menyelidiki urusan orang lain meskipun urusan tersebut tidak berhubungan dengan saya. Alih-alih memikirkan bagaimana langkah untuk memperbaiki diri dan memperbaiki hubungan dengan orang lain, saya justru sibuk memikirkan sepak terjang orang lain, ya persis seperti infotainment itu. Dengan begitu energi dan konsentrasi saya terkuras untuk suatu yang tidak bermanfaat. Lalu apa yang saya sisakan untuk membangun potensi saya ?
Wah ! Tampaknya saya harus merubah sikap saya terhadap para mahasiswa. Lha gimana mau memarahi mereka yang belum faham mengabstraksikan batasan sistem ke dalam diagram konteks, sedang saya sendiri masih belum faham esensi diagram konteks. Pantesan kalau kuliah Rekayasa Perangkat Lunak mahasiswa-mahasiswa saya pada ngantuk….Terus saya marah-marah sendiri. Terus saya keluar ruangan, minta perhatian, supaya ada salah satu mahasiswa yang tidur di kelas menghadap saya merengek-rengek minta dimaafkan.
“Oalah pak Wisnu……. nggak usah deh ngomong tentang diagram konteks yang katanya interaksi antar entitas luar nggak perlu digambarkan, kalau Bapak sendiri masih suka mencari-cari tahu apa yang dikerjakan orang lain. Dan kebangeten tenan deh, Pak, jika Bapak masih suka mencari-cari kelemahan dan kesalahan orang lain.” Tiba-tiba mahasiswa-mahasiswa yang tadi pada jengkel sama saya habis bimbingan, ngrubutin dan ’ngobrak-ngabrik’ rambut saya yang sudah kucel.
Deg…..Dada saya seperti mandeg…..Untung hanya khayalan saya sendiri… Selamat berjuang memperbaiki diri……….:-)
Supaya pak Wisnu ngga marah2 terus sama mahasiswanya, tools nya langsung diganti aja dengan UML. Lebih manusiawi…
Bagaimana kabarnya pak??
Oh ya, saya add blognya ke tempat saya ya pak…
Salam,
TS
http://totosuharto.wordpress.com/
Kabar baik, Pak. Pak Toto kumaha, damang? Di sini hanya sedikit mahasiswa diploma yang mau pakai UML untuk TA nya.
Oya, saya juga add blog pak Toto juga ya…
Salam,
Wisnu