Anda kenal pak Waras ? Saya juga tidak. Tapi beberapa hari yang lalu saya melihat namanya disebut-sebut media masa. Bukan karena ‘menjinakkan’ gunung seperti yang dilakukan mbah Marijan, tapi yang dilakukannya jauh lebih dasyat. Pak Waras mengembalikan kelebihan uang ganti rugi dari PT Lapindo akibat sawahnya tergenang lumpur. Dan tidak main-main, uang ganti rugi yang dikembalikanya 410 juta ! Subhanallah.
Ceritanya pak Waras seharusnya menerima uang ganti rugi atas sawahnya yang tergenang lumpur Lapindo sekitar 50 juta an. Tapi tiba-tiba di rekening tabungannya telah tetransfer 460 juta rupiah. Melihat uang sebesar itu dengan tergopoh-gopoh ia melaporkannya ke kepala desa. Dan akhirnya dengan bantuan kepala desa ia transfer kembali uang 410 juta kepada PT Lapindo. Ketika ditanya wartawan kenapa beliau mengembalikan uang yang begitu besar itu. Jawabnya singkat, “saya tidak ingin hidup penuh kecemasan karena dikejar-kejar rasa bersalah.” Subhanallah, di tengah-tengah ketidakjujuran yang merajalela, atau di tengah jaman yang makin edan ini(bhs jawa, artinya gila), ternyata masih ada yang benar-benar masih waras (lawan kata edan-masih menggunakan fikiran dan hatinya). Ya Pak Waras itu ! Saya terharu dan malu membaca berita itu. Kalau saya berada pada situasi yang sama dengan pak Waras, apa saya bisa sejujur dan sekuat itu, ya ?
Berita itu kalau tidak salah dimuat tanggal 14 Agustusan, tepat pada hari Pramuka. Saya jadi teringat lagi masa kecil saya yang menyenangkan ketika ikut pramuka. Dengan pakaian serba coklat, topi, peluit, dan atribut lainnya, saya menjadi merasa sangat gagah dan bersemangat. Yang paling saya suka dari kegiatan pramuka adalah ketika memecahkan sandi, sebuah kode untuk menyamarkan pesan. Saya biasanya menjadi andalah regu saya untuk memecahkan kode-kode sandi itu. Pada kegiatan pramuka itu mekanisme penyandian yang dilakukan masih sederhana. Ada yang diambil beberapa huruf yang paling depan saja, paling belakang, atau huruf yang di tengah. Biasanya tergantung kuncinya. Sebagai contoh kalau kuncinya berbunyi : “Kalau makan ikan ambil kepalanya.” Berarti yang harus diperhatikan adalah beberapa huruf paling depan dari masing-masing kata. Misal kalau ada pesan SANTAI DIAM, kemungkinan pesan aslinya berdasarkan kunci ”Kalau makan ikan ambil kepalanya” itu adalah SANDI.
Saat kuliah S2, keasyikan bermain dengan sandi waktu kecil itu memotivasi saya untuk mendalami kriptografi. Kriptografi, secara umum adalah ilmu dan seni untuk menjaga kerahasiaan berita/pesan. Untuk mencapai tujuan kriptografis, yaitu menjaga kerahasiaan berita/pesan, diperlukan suatu algoritma sandi. Algoritma tersebut harus memiliki kekuatan untuk melakukan konfusi/pembingungan (confusion) dari teks terang sehingga sulit untuk direkonstruksikan secara langsung tanpa menggunakan algoritma dekripsinya dan difusi/peleburan (difusion) dari teks terang sehingga karakteristik dari teks terang tersebut hilang. Proses untuk menyamarkan pesan itu dikenal dengan enkripsi. Sedangkan proses untuk mengembalikan pesan tersebut disebut dekripsi.
Jika kita melakukan enkripsi terhadap suatu teks kata SAYA misalnya maka hasil enkripsinya menjadi karakter-karakter yang tak bermakna yang sulit dibaca atau bahkan karakter kosong (yang dalam format teks, tidak terlihat). Sebagai contoh teks SAYA kalau dienkripsi dengan algoritma tertentu dan kunci tertentu bisa jadi menhasilkan teks berikut #@ ! (tergantung algoritma dan kunci yang digunakan). Dalam hal ini bisa jadi S menjadi #, A menjadi @, Y menjadi karakter kosong, dan A teakhir menjadi ! (Namun tidak selau terjadi pemetaan yang demikian, tergantung algoritmanya).Teks hasil enkripsi tersebut, yaitu : #@ ! bagi kita itu tidak memiliki makna.Teks hasil enkripsi ini disebut chipertext. Untuk mendapatkan makna aslinya yaitu SAYA kita harus melakukan dekripsi terhadap chipertext ini dengan menggunakan algoritma yang sama dengan saat mengenkripsi dan menggunakan kunci yang sama atau pun berbeda tergantung apakah algoritma yang digunakan kunci simetris atau asimetris.
Kembali kepada teks bermakna atau yang tidak bermakna, dua-duanya pada prinsipnya terdiri dari serangkaian bit. Karena aturan ASCII, maka rangkaian bit-bit yang satu misalnya direpresentasikan sebagai S, rangkaian bit yang lain sebagai #. Karena kita sudah terbiasa (atau sepakat) bahwa karakter yang bermakna adalah A sampai Z, maka ketika diberikan sebuah teks SAYA, dengan cepat kita membaca dan memahaminya. Namun jika diberikan teks hasil enkripsi #@ !, kita menangkapnya sebagai pesan tak bermakna. Dengan demikian tujuan menjaga kerahasiaan pesan itu tercapai. Kita hanya bisa memecahkan kerahasiaan pesan itu, dengan mengembalikan pesan tak bermakna itu ke aslinya jika memiliki kuncinya.
Nah, kalau kita, manusia saja dengan mudah mengubah teks yang bermakna menjadi tak bermakna atau karakter bermakna menjadi karakter kosong dan kemudian mengembalikannya kembali dengan algoritma dan bahkan kunci yang sama, apalagi Allah! Bukankah akan mudah bagi Allah menciptakan makhluknya, kemudian megubahnya (meng’enkripsinya’) menjadi tulang belulang yang berserakan, atau bahkan hancur lebur atau lenyap sekalipun, kemudian membangkitkannya (men’dekripsi’kannya) kembali seutuh-utuhnya ? Bukankah manusia dan makhluk lainnya, tulang belulang, atau debu hasil kremasi, semua itu hanya representasi dari kode-kode juga (kode DNA), seperti halnya dengan teks, suara, atau citra ? Hanya beda ‘format’ nya saja ? Wallahu alam.
Kembali lagi ke Pak Waras, dengan kejujurannya mengembalikan kelebihan uang ganti rugi itu, beliau menunjukkan betapa tingginya tingkat pemahamannya akan makna hidup. Bahwa ada kehidupan lagi sesudah mati, di mana kita akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan yang dilakukan di dunia ini. Apa yang dilakukan pak Waras seperti menohok orang-orang yang mengaku dirinya cerdik pandai, tapi keluasan ilmunya tidak mampu membawa pada pemahaman akan makna hidup sebenarnya. Mereka terjebak pada pemahaman keliru yang bersumber dari pemikiran filsafat yang keliru pula, bahwa : ”Aku ada karena aku ada”. Atau ”aku ada karena aku berfikir.” Untuk orang-orang seperti ini dan yang mengikutinya, yang tidak lagi mempercayai kitab suci sebagai bacaan rujukannya, pak Waras seperti ingin menyampaikan pesan tak langsungnya: ”mumpung belum terlambat belajarlah kriptografi!”
siipp .
pak waras itu okehh banget lahh
iaa ni aku jg mo ambil skripsi ttg one time password .
kriptografi . Hmm .
klo ada artiket ato apa lah ttg one time password . mohon kirim ke email saya ziandra_gals@yahoo.co.id
siipp .
pak waras itu okehh banget lahh
iaa ni aku jg mo ambil skripsi ttg one time password .
kriptografi . Hmm .
klo ada artiket ato apa lah ttg one time password . mohon kirim ke email saya ziandra_gals@yahoo.co.id
ato YM : nuw_galz
wah pa sy ketinggalan informasi. baru ketahuan sekarang blognya. kupasan dan materinya sangat bagus.
sy jg belajar lagi ttg kriptografi lanjutin tugas akhir dulu. dan ternyata yang dl saya pelajari masih sangat dangkal.
sy tunggu tulisan kriptografi selanjutnya..