<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Coretan Kecil</title>
	<atom:link href="http://wisnuananta.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wisnuananta.wordpress.com</link>
	<description>Memandang Informatika dari Sisi Lain....</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 May 2008 05:44:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='wisnuananta.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Coretan Kecil</title>
		<link>http://wisnuananta.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wisnuananta.wordpress.com/osd.xml" title="Coretan Kecil" />
	<atom:link rel='hub' href='http://wisnuananta.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>One-To-One Relationship : Kiat Hubungan Interpersonal</title>
		<link>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/one-to-one-relationship-kiat-hubungan-interpersonal/</link>
		<comments>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/one-to-one-relationship-kiat-hubungan-interpersonal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 15:53:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu ananta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[entitty relationship diagram]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan interpersonal]]></category>
		<category><![CDATA[one to one relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisnuananta.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang menarik dalam konsep relationship pada basis data, khususnya mengenai one-to-one relationship. Konsep ini mengenai bagaimana mentransformasikan ER model yang mengandung one-to-one relationship ke dalam model relational. Apakah dua buah entitas yang memiliki one-to-one relationship ini akan ditransformasikan menjadi satu tabel atau dua tabel ? Kalau dua tabel, primary key dari tabel yang mana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisnuananta.wordpress.com&amp;blog=3821882&amp;post=8&amp;subd=wisnuananta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry-body">
<p><span style="font-size:10pt;"><span><span style="font-size:10pt;">Ada </span><span style="font-size:10pt;">yang menarik dalam konsep relationship pada basis data, khususnya mengenai one-to-one relationship. Konsep ini mengenai bagaimana mentransformasikan ER model yang mengandung one-to-one relationship ke dalam model relational. Apakah dua buah entitas yang memiliki one-to-one relationship ini akan ditransformasikan menjadi satu tabel atau dua tabel ? Kalau dua tabel, primary key dari tabel yang mana yang harus ditempatkan pada tabel yang lain menjadi foreign key ?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span>Saya akan mulai dengan contoh. Andaikan ada dua entitas : mahasiswa dan komputer. Jika asumsinya setiap mahasiswa mendapat fasilitas satu komputer dan setiap mahasiswa selalu menggunakan computer yang sama untuk melakukan praktikum dari semester awal sampai dia lulus, maka relationship antara entitas mahasiswa dan computer ini adalah one-to-one relationship. Jika ternyata masing-masing mahasiswa mendapat satu computer dan tidak ada computer yang tersisa (semua telah dialokasikan kepada mahasiswa), maka kedua entitas ini dinamakan memiliki mandatory one cardinality (total participation). Untuk kasus yang demikian, maka transformasi model ER ke model relational menjadi satu tabel. Kita satukan kedua entitas dengan atribut-atributnya ke dalam satu tabel.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span>Sebagai contoh: entitas mahasiswa memiliki atribut NRP, dan entitas computer memiliki atribut kode_komp dan tipe. Misal entity instance dari entitas mahasiswa adalah M={M1, M2, M3} dan entity instance dari entitas computer adalah K={(K1, T1), (K2, T2), (K3, T3)}, maka model relasionalnya menjadi tabel baru yang mengandung tiga field NRP, Kode_komp, dan Tipe dengan entity instancenya<span> </span>misal M_K = {(M1, K1, T1), (M2, K2, T2), (M3, K3, T3)}.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span>Dalam konteks hubungan interpersonal (hubungan pribadi antara dua orang manusia), ini adalah hubungan interpersonal yang ideal. Jika analoginya, diri kita adalah representasi dari suatu entitas, dengan atribut berupa keinginan, harapan, dll. Dan orang lain adalah entitas yang lain. Maka jika setiap entity instance kita (keinginan/harapan) bertemu tepat dengan entity instance (keinginan/harapan) dari orang lain…. Maka sesungguhnya hati kita dengan hati orang itu seperti telah menyatu. Kita dapat merasakan apa yang orang lain rasakan begitu pula sebaliknya. Ini mungkin seperti yang diisyaratkan Nabi : tidak beriman seseorang sebelum dia mencintai suadaranya seperti kecintaannya<span> </span>pada dirinya sendiri. <span> </span><span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span>Tapi memang sulit mewujudkan relationship yang ideal seperti di atas. Kenyataannya, kita sering berusaha memahami orang lain tetapi merasa bahwa orang lain tersebut belum memahami kita sepenuhnya. Konsep one-to-one relationship berikut akan memperjelas bagaimana kita harus bersikap.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span>Kembali ke contoh entitas mahasiswa dan computer. Jika asumsinya departemen tersebut memiliki computer yang berlebih. Maka setiap mahasiswa mendapatkan tepat satu computer yang berarti entity instance dari entitas mahasiswa berpartisipasi penuh pada relationship (mandatory one cardinality). Sementara itu, karena jumlah computer berlebih, maka ada computer yang menganggur (alias tidak dialokasikan kepada mahasiswa) sehingga entity instance pada entitas computer hanya berpartisipasi sebagian (optional one cardinality). Untuk kasus yang demikian, ketika ditransformasikan ke model relational, akan<span> </span>menghasilkan dua tabel, yaitu : tabel mahasiswa dan tabel computer. Dan yang terpenting adalah primary key dari tabel yang memiliki optional one cardinality (dalam hal ini tabel komputer harus ditempatkan ke<span> </span>tabel yang mandatory one cardinality (dalam hal ini tabel mahasiswa) sebagai foreign key. Tidak boleh terbalik. Jika terbalik, akan banyak nilai Null pada tabel komputer.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span>Lebih jelasnya : jika misalnya M = {(M1, M2, M3} dan K = {(K1, T1), (K2, T2), (K3, T3), (K4, T4), (K5, T5)} maka setelah ditransformasikan ke dalam model relasional menjadi dua tabel M` dan K`, yaitu:<span> </span>M` = {(M1,K1), (M2,K2), (M3, K3)}, di mana K1, K2, dan K3 sebagai foreign key dan K` = {(K1, T1), (K2, T2), (K3, T3), (K4, T4), (K5, T5)}.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span>Jika penempatan primary key terbalik. Maka akan menghasilkan :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span>M` = {M1, M2, M3} </span></span><span style="font-size:10pt;"><span>dan K` = {(K1, T1, M1), (K2,T2, M2), (K3, T3, M3), (K4, T4, Null), (K5, T5, Null)}.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span>Dalam konteks hubungan interpersonal. Jika kita merasa tidak semua keinginan/harapan dipenuhi oleh orang lain maka analoginya kita seperti entitas computer pada contoh di atas (yaitu memiliki optional one cardinality)<span> </span>sedangkan orang lain<span> </span>yang mungkin telah merasa cukup puas dengan relationship yang kita bangun analoginya seperti entitas mahasiswa (yang memiliki mandatory one cardinality). Sesuai dengan contoh di atas. Kalau kita menemui kasus yang demikian, maka seharusnyalah kita tetap bersabar/berusaha memahami orang lain tersebut. Kita berusaha dengan ikhlas untuk terus menanamkan identitas kita (primary key) ke dalam lubuk hati orang itu. Berusaha untuk selalu memulai memahami, memaafkan, menyapa, dll. Karena jika kita berbuat sebaliknya, menuntut orang lain untuk selalu memulai memahami kita, maka tanpa kita sadari di dalam hati kita akan ada kekosongan-kekosongan. Jiwa kita akan diliputi kehampaan. Ini mungkin yang diisyaratkan oleh Nabi Muhammad saw, manusia yang paling sempurna akhlaknya, agar kita “menyebarkan salam”, “menyebarkan senyum”, “dan selalu menjadi yang lebih dulu memaafkan”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;">Wallahu ‘alam</span></p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wisnuananta.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wisnuananta.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wisnuananta.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wisnuananta.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wisnuananta.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wisnuananta.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wisnuananta.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wisnuananta.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wisnuananta.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wisnuananta.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wisnuananta.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wisnuananta.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wisnuananta.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wisnuananta.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wisnuananta.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wisnuananta.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisnuananta.wordpress.com&amp;blog=3821882&amp;post=8&amp;subd=wisnuananta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/one-to-one-relationship-kiat-hubungan-interpersonal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c0660f19aa0b45558e66415b5c5d183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wisnu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penjual Mie Ayam dan One-to-many Relationship</title>
		<link>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/penjual-mie-ayam-dan-one-to-many-relationship/</link>
		<comments>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/penjual-mie-ayam-dan-one-to-many-relationship/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 15:47:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu ananta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[one to many relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisnuananta.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Jika saya sedang ingin masakan Semarang, saya gelondorkan motor Vespa saya ke jalan Pajajaran menurun ke arah Warung Jambu. Kemudian kira-kira di depan kantor Bank Muammalat yang baru saya berputar berbalik arah menuju kantor Bank Muammalat yang lama di dekat gedung PLN. Di pojok depan kantor itu ada gerobak kecil bertuliskan ”Soto Semarang”. Seorang ibu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisnuananta.wordpress.com&amp;blog=3821882&amp;post=7&amp;subd=wisnuananta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika saya sedang ingin masakan Semarang, saya gelondorkan motor Vespa saya ke jalan Pajajaran menurun ke arah Warung Jambu. Kemudian kira-kira di depan kantor Bank Muammalat yang baru saya berputar berbalik arah menuju kantor Bank Muammalat yang lama di dekat gedung PLN. Di pojok depan kantor itu ada gerobak kecil bertuliskan ”Soto Semarang”. Seorang ibu yang sudah agak tua biasanya tersenyum begitu melihat saya memarkirkan motor Vespa dan menyapa, ”Campur, Mas”. Mendengar pertanyaan itu biasanya saya langsung mengangguk, kemudian mencari bangku yang mengahadap ke jalan raya, dan dengan cepat tangan saya mengambil sate telur puyuh yang telah tersedia di atas meja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;">Sementara soto belum disajikan, sambil menyantap sate telur puyuh itu, mata saya tertuju pada penjual mie ayam yang terletak di pinggir jalan kompleks pertokoan itu. Penjual mie ayam itu masih muda, laki-laki, rapi dandannya. Bersepatu dan berkaos kaki pula. Sebenarnya pelanggannya tidak terlalu ramai (tapi memang lebih ramai dari Soto Semarang langganan saya…..). <span lang="SV">Ini mengindikasikan mungkin masakannya biasa-biasa saja. Namun kalau saya amati dia punya pelanggan tetap. Dan yang membuat saya kagum adalah dia begitu menghayati dan  tampak bergembira ketika melayani pelanggannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span lang="SV">Dia bukan seperti penjual mie ayam lain yang sering saya jumpai di jalan atau tempat-tempat keramaian. Saya tidak bisa melupakan bagaimana gayanya ketika memasukkan mie dan sayur-sayuran ke dalam air mendidih kemudian mengangkatnya kembali dan menuangkannya ke mangkok. Semuanya terlihat seperti berirama. Bahkan ketika menuangkan mie ke mangkok, dia sedikit menyentakkan mie tersebut sehingga agak sedikit meloncat namun mendarat tepat di dalam mangkok yang sudah disiapkan. Begitu pun ketika menuangkan kecap dan saos tomat, ada sentakan-sentakan khas, seperti sebuah ketukan yang mengiringi senyumnya yang tak pernah lepas dari bibirnya. Gerakannya tangkas. Pelayanannya cepat. Barangkali kalau tidak ada Soto Semarang saya mungkin sudah menjadi salah satu pelanggannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span lang="SV">Saya kira semangat dan kegembiraannya dalam bekerja itulah yang menjadi ciri khasnya dan kunci keberhasilanya mempertahankan pelanggan. Saya yang belum pernah membeli mie ayam itu saja sangat merasakan aura tersebut, apalagi pelanggannya yang selalu ia suguhi gaya memikat, tangkas dan senyuman. Penjual mie ayam tersebut memahami betul bagaimana ia harus bersikap untuk menanamkan identitas dirinya di hati para pelanggannya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">            Penjual mie ayam ini sebut saja Mas Fulan, meskipun mungkin tidak pernah mengecap bangku kuliah, justru lebih memahami konsep dalam basisdata mengenai <em>one-to-many relationship</em>. Andaikan Mas Fulan ini adalah  salah satu <em>entity instance </em>dari entitas Penjual Mie Ayam, sedangkan Pelanggan adalah entitas yang lain, dengan asumsi bahwa masing-masing pelanggan hanya setia pada seorang penjual mie ayam, maka Mas Fulan ini telah dengan tepat menerapkan bagaimana seharusnya <em>one-to-many relationship </em>ini ditransformasikan ke dalam model relasional. Dalam model relasional, entitas-entitas ditransformasikan menjadi tabel-tabel. Sedangkan untuk</span><span lang="SV"> mewujudkan <em>one-to-many relationship</em> antara tabel Penjual Mie Ayam dan Pelanggan, maka identitas (<em>primary key</em>)  tabel Penjual Mie Ayam diletakkan pada tabel Pelanggan. Itulah yang dilakukan Mas Fulan</span><span lang="SV"><span style="font-style:italic;"> </span></span><span lang="SV">! </span><span lang="SV">Untuk mewujudkan <em>relationship </em>antara dia dengan pelanggannya, dia berusaha menanamkan dengan kuat identitas dirinya, berupa gaya yang unik, senyuman yang khas, dan kecapatan pelayanan di hati para pelanggannya !</span><span lang="SV"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">           Saya menjadi malu. Saya yang lebih dari dua semester mengajar kuliah basis data, masih belum mampu memahami makna tersembunyi dari konsep <em>one-to-many relationship </em>seperti yang difahami Mas Fulan ini. Sebagai dosen wali (pembimbing akademik), saya masih belum mampu membuat mahasiswa saya secara terbuka dan berani mengkonsultasikan permasalahan-permasalahan mereka kepada saya. Selama ini hubungan saya dengan mahasiswa bimbingan akademik saya terkesan hanya formalitas saja. Selama ini pertemuan kami terjadi hanya pada saat mereka membutuhkan tanda tangan saya untuk pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) atau perubahan KRS. Tidak pernah untuk yang lain. Boro-boro dengan bangganya mereka menceritakan keberhasilan-keberhasilan kecil mereka, atau dengan penuh harap dan cemas menceritakan kegelisahan-kegelisahan mereka kepada saya. Kalau ketemu pun paling hanya senyum kecil. Bahkan setelah saya fikir-fikir, ternyata saya hanya ingat beberapa saja dari mahasiswa bimbingan akademik saya tersebut ! Ups&#8230;!<br />
</span></p>
<p><span lang="SV">          Sekali lagi, saya merasa malu. Saya terlalu cuek dan tidak pernah sedikitpun berusaha secara serius menancapkan identitas saya ke dalam hati mereka. Saya yang sebenarnya termasuk orang yang suka memotivasi dan memperhatikan orang lain, tidak pernah berusaha dengan serius memotivasi dan memperhatikan ekspresi dan kegundahan wajah mereka. Padahal jelas antara saya sebagai Dosen Pembimbing Akademik dan mereka sebagai Mahasiswa adalah <em>one-to-many relationship</em>. Jadi mana mungkin mereka yang harus memulai menunjukkan identitasnya kepada saya ?<br />
</span></p>
<p><span lang="SV">            Masih diselimuti rasa bersalah ini, tiba-tiba muncul ide di kepala saya. Apa sekali-sekali saya traktir mereka makan mie ayam di pinggir jalan Pajajaran itu ya ?</span></p>
<p><span lang="SV">              Tiba-tiba ada yang nyletuk. Ah&#8230; Bapak becanda, ya ? Masak pegawai negeri nraktir&#8230;. ? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /><br />
</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wisnuananta.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wisnuananta.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wisnuananta.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wisnuananta.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wisnuananta.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wisnuananta.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wisnuananta.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wisnuananta.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wisnuananta.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wisnuananta.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wisnuananta.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wisnuananta.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wisnuananta.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wisnuananta.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wisnuananta.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wisnuananta.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisnuananta.wordpress.com&amp;blog=3821882&amp;post=7&amp;subd=wisnuananta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/penjual-mie-ayam-dan-one-to-many-relationship/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c0660f19aa0b45558e66415b5c5d183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wisnu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesan Tak Langsung Pak Waras : &#8220;Mumpung Belum Terlambat Belajarlah Kriptografi !&#8221;</title>
		<link>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/pesan-tak-langsung-pak-waras-mumpung-belum-terlambat-belajarlah-kriptografi/</link>
		<comments>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/pesan-tak-langsung-pak-waras-mumpung-belum-terlambat-belajarlah-kriptografi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 15:43:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu ananta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[dekripsi]]></category>
		<category><![CDATA[enkripsi]]></category>
		<category><![CDATA[kebangkitan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan setelah mati]]></category>
		<category><![CDATA[kejujuran]]></category>
		<category><![CDATA[kriptografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisnuananta.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Anda kenal pak Waras ? Saya juga tidak. Tapi beberapa hari yang lalu saya melihat namanya disebut-sebut media masa. Bukan karena ‘menjinakkan’ gunung seperti yang dilakukan mbah Marijan, tapi yang dilakukannya jauh lebih dasyat. Pak Waras mengembalikan kelebihan uang ganti rugi dari PT Lapindo akibat sawahnya tergenang lumpur. Dan tidak main-main, uang ganti rugi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisnuananta.wordpress.com&amp;blog=3821882&amp;post=6&amp;subd=wisnuananta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry-body">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Anda kenal pak Waras ? Saya juga tidak. Tapi beberapa hari yang lalu saya melihat namanya disebut-sebut media masa. Bukan karena ‘menjinakkan’ gunung seperti yang dilakukan mbah Marijan, tapi yang dilakukannya jauh lebih dasyat. Pak Waras mengembalikan kelebihan uang ganti rugi dari PT Lapindo akibat sawahnya tergenang lumpur. Dan tidak main-main, uang ganti rugi yang dikembalikanya 410 juta ! Subhanallah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ceritanya pak Waras seharusnya menerima uang ganti rugi atas sawahnya yang tergenang lumpur Lapindo sekitar 50 juta an. Tapi tiba-tiba di rekening tabungannya telah tetransfer 460 juta rupiah. Melihat uang sebesar itu dengan tergopoh-gopoh ia melaporkannya ke kepala desa. Dan akhirnya dengan bantuan kepala desa ia transfer kembali uang 410 juta kepada PT Lapindo. Ketika ditanya wartawan kenapa beliau mengembalikan uang yang begitu besar itu. Jawabnya singkat, “saya tidak ingin hidup penuh kecemasan karena dikejar-kejar rasa bersalah.” Subhanallah, di tengah-tengah ketidakjujuran yang merajalela, atau di tengah jaman yang makin edan ini(bhs jawa, artinya gila), ternyata masih ada yang benar-benar masih waras (lawan kata edan-masih menggunakan fikiran dan hatinya). Ya Pak Waras itu ! Saya terharu dan malu membaca berita itu. </span><span style="font-size:10pt;" lang="SV">Kalau saya berada pada situasi yang sama dengan pak Waras, apa saya bisa sejujur dan sekuat itu, ya ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="SV">Berita itu kalau tidak salah dimuat tanggal 14 Agustusan, tepat pada hari Pramuka. Saya jadi teringat lagi masa kecil saya yang menyenangkan ketika ikut pramuka. </span><span style="font-size:10pt;">Dengan pakaian serba coklat, topi, peluit, dan atribut lainnya, saya menjadi merasa sangat gagah dan bersemangat. Yang paling saya suka dari kegiatan pramuka adalah ketika memecahkan sandi, sebuah kode untuk menyamarkan pesan. Saya biasanya menjadi andalah regu saya untuk memecahkan kode-kode sandi itu. </span><span style="font-size:10pt;" lang="SV">Pada kegiatan pramuka itu mekanisme penyandian yang dilakukan masih sederhana. Ada yang diambil beberapa huruf yang paling depan saja, paling belakang, atau huruf yang di tengah. Biasanya tergantung kuncinya. Sebagai contoh kalau kuncinya berbunyi : “Kalau makan ikan ambil kepalanya.” Berarti yang harus diperhatikan adalah beberapa huruf paling depan dari masing-masing kata. Misal kalau ada pesan SANTAI DIAM, kemungkinan pesan aslinya berdasarkan kunci ”Kalau makan ikan ambil kepalanya” itu adalah SANDI.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="SV">Saat kuliah S2, keasyikan bermain dengan sandi waktu kecil itu memotivasi saya untuk mendalami kriptografi. <strong>Kriptografi</strong>, secara umum adalah ilmu dan seni untuk menjaga kerahasiaan berita/pesan. Untuk mencapai tujuan kriptografis, yaitu menjaga kerahasiaan berita/pesan, diperlukan suatu algoritma sandi. Algoritma tersebut harus memiliki kekuatan untuk melakukan konfusi/pembingungan (confusion) dari teks terang sehingga sulit untuk direkonstruksikan secara langsung tanpa menggunakan algoritma dekripsinya dan difusi/peleburan (difusion) dari teks terang sehingga karakteristik dari teks terang tersebut hilang. Proses untuk menyamarkan pesan itu dikenal dengan enkripsi. Sedangkan proses untuk mengembalikan pesan tersebut disebut dekripsi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="SV">Jika kita melakukan enkripsi terhadap suatu teks kata SAYA misalnya maka hasil enkripsinya menjadi karakter-karakter yang tak bermakna yang sulit dibaca atau bahkan karakter kosong (yang dalam format teks, tidak terlihat). Sebagai contoh teks SAYA kalau dienkripsi dengan algoritma tertentu dan kunci tertentu bisa jadi menhasilkan teks berikut #@ ! (tergantung algoritma dan kunci yang digunakan). Dalam hal ini <strong>bisa jadi</strong> S menjadi #, A menjadi @, Y menjadi karakter kosong, dan A teakhir menjadi ! (Namun tidak selau terjadi pemetaan yang demikian, tergantung algoritmanya).Teks hasil enkripsi tersebut, yaitu : #@ ! bagi kita itu tidak memiliki makna.Teks hasil enkripsi ini disebut <em>chipertext</em>. Untuk mendapatkan makna aslinya yaitu SAYA kita harus melakukan dekripsi terhadap <em>chipertext</em> ini dengan menggunakan algoritma yang sama dengan saat mengenkripsi dan menggunakan kunci yang sama atau pun berbeda tergantung apakah algoritma yang digunakan kunci simetris atau asimetris.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="SV">Kembali kepada teks bermakna atau yang tidak bermakna, dua-duanya pada prinsipnya terdiri dari serangkaian bit. Karena aturan ASCII, maka rangkaian bit-bit yang satu misalnya direpresentasikan sebagai S, rangkaian bit yang lain sebagai #. Karena kita sudah terbiasa (atau sepakat) bahwa karakter yang bermakna adalah A sampai Z, maka ketika diberikan sebuah teks SAYA, dengan cepat kita membaca dan memahaminya. Namun jika diberikan teks hasil enkripsi #@ !, kita menangkapnya sebagai pesan tak bermakna. Dengan demikian tujuan menjaga kerahasiaan pesan itu tercapai. Kita hanya bisa memecahkan kerahasiaan pesan itu, dengan mengembalikan pesan tak bermakna itu ke aslinya jika memiliki kuncinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;" lang="SV">Nah, kalau kita, manusia saja dengan mudah mengubah teks yang bermakna menjadi tak bermakna atau karakter bermakna menjadi karakter kosong dan kemudian mengembalikannya kembali dengan algoritma dan bahkan kunci yang sama, apalagi Allah! Bukankah akan mudah bagi Allah menciptakan makhluknya, kemudian megubahnya (meng’enkripsinya’) menjadi tulang belulang yang berserakan, atau bahkan hancur lebur atau lenyap sekalipun, kemudian membangkitkannya (men’dekripsi&#8217;kannya) kembali seutuh-utuhnya ? Bukankah manusia dan makhluk lainnya, </span><span style="font-size:10pt;" lang="SV">tulang belulang, atau debu hasil kremasi, semua itu</span><span style="font-size:10pt;" lang="SV">  hanya representasi dari kode-kode juga (kode DNA), seperti halnya dengan teks, suara, atau citra ? Hanya beda &#8216;format&#8217; nya saja ? Wallahu alam. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;" lang="SV">            Kembali lagi ke Pak Waras, dengan kejujurannya mengembalikan kelebihan uang ganti rugi itu, beliau menunjukkan betapa tingginya tingkat pemahamannya akan makna hidup. Bahwa ada kehidupan lagi sesudah mati, di mana kita akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan yang dilakukan di dunia ini. Apa yang dilakukan pak Waras seperti menohok orang-orang yang mengaku dirinya cerdik pandai, tapi keluasan ilmunya tidak mampu membawa pada pemahaman akan makna hidup sebenarnya. Mereka terjebak pada pemahaman keliru yang bersumber dari pemikiran filsafat yang keliru pula, bahwa : ”Aku ada karena aku ada”. Atau ”aku ada karena aku berfikir.” Untuk orang-orang seperti ini dan yang mengikutinya, yang tidak lagi mempercayai kitab suci sebagai  bacaan rujukannya, pak Waras seperti ingin menyampaikan pesan tak langsungnya: ”mumpung belum terlambat belajarlah kriptografi!”</span></p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wisnuananta.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wisnuananta.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wisnuananta.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wisnuananta.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wisnuananta.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wisnuananta.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wisnuananta.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wisnuananta.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wisnuananta.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wisnuananta.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wisnuananta.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wisnuananta.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wisnuananta.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wisnuananta.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wisnuananta.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wisnuananta.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisnuananta.wordpress.com&amp;blog=3821882&amp;post=6&amp;subd=wisnuananta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/pesan-tak-langsung-pak-waras-mumpung-belum-terlambat-belajarlah-kriptografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c0660f19aa0b45558e66415b5c5d183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wisnu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pak Kadri Jagoan Watermarking</title>
		<link>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/pak-kadri-jagoan-watermarking/</link>
		<comments>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/pak-kadri-jagoan-watermarking/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 15:30:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu ananta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[amal sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[kesederhanaan]]></category>
		<category><![CDATA[watermark]]></category>
		<category><![CDATA[watermarking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisnuananta.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu saya diminta seorang mahasiswa S1 untuk menjadi moderator seminar skripsi. Topik penelitiannya tentang watermaking. Seminar tersebut menyedot perhatian cukup banyak mahasiswa. Saya kira mahasiswa ini cukup berhasil menyajikan hasil penelitian tersebut. Apalagi gayanya yang khas membuat suasana seminar jadi semarak karena banyak yang terpingkal-pingkal. Termasuk saya. Pengetahuan dan wawasan mahasiswa ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisnuananta.wordpress.com&amp;blog=3821882&amp;post=5&amp;subd=wisnuananta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;">Beberapa hari yang lalu saya diminta seorang mahasiswa S1 untuk menjadi moderator seminar skripsi. Topik penelitiannya tentang <em>watermaking</em>. Seminar tersebut menyedot perhatian cukup banyak mahasiswa. Saya kira mahasiswa ini cukup berhasil menyajikan hasil penelitian tersebut. Apalagi gayanya yang khas membuat suasana seminar jadi semarak karena banyak yang terpingkal-pingkal. Termasuk saya. Pengetahuan dan wawasan mahasiswa ini juga bagus. Disertai contoh-contoh, dia menjelaskan definisi <em>watermaking</em> dengan baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;">Menurut dia <em>watermaking</em> adalah suatu teknik yang mengijinkan seseorang individu untuk menambahkan catatan hak cipta yang tersembunyi atau pesan verifikasi lain ke dalam dokumen-dokumen, sinyal-sinyal audio, atau citra. Kita dapat membuat <em>watermark</em> ini <em>visible</em> atau <em>invisible</em>. Pada <em>visible watermark, </em>pesan verifikasi atau hak cipta tersebut dapat terlihat oleh indera manusia. Sebaliknya pada <em>invisible watermark</em>, untuk melihatnya tidak cukup hanya mengandalkan indera, melainkan harus melewati proses ekstrasi dengan metode komputasional tertentu. Biasanya pada saat ekstrasi <em>invisible watermark</em> diperlukan sebuah <em>password</em> yang disebut <em>watermark key. </em>Hanya orang yang memiliki <em>watermark key </em>ini yang dapat mengekstrasi dan melihat pesan verifikasi atau hak cipta tersebut.</p>
<p>Asyik sekali saya mengikuti seminar tersebut. Perasaan jenuh agak sedikit terobati. Bahkan malamnya, saya masih terhanyut memikirkan <em>watermarking</em>. Saya jadi ingat kembali masa-masa indah ketika kos di Tubagus Ismail Bawah Bandung, saat saya masih kuliah S1. Ada sebuah masjid di ujung jalan Sekeloa dan Tubagus Ismail Bawah itu. Orang-orang menamainya Masjid Al Ukhuwwah. Tidak terlalu besar, memang. Namun kegiatannya cukup semarak. Dan siapapun yang pernah tinggal di sekitar masjid itu, bahkan mungkin sampai sekarang, pasti mengenal suara yang membangunkan kita pagi-pagi untuk melakukan sholat shubuh berjamaah. Suara itu, suara pak Kadri. Suara azannya biasa saja. Nadanya juga sangat biasa. Tapi karena keistiqomahannya menyuarakan azan di saat sebagian besar dari kita masih terlelap, maka suara itu menjadi sulit dilupakan, bahkan meski saya sudah pindah ke Bogor sekalipun.</p>
<p>Pak Kadri, waktu mudanya hanya seorang kernet angkutan kota. Saat saya kos di Tubagus Ismail Bawah itu beliau sudah memiliki 3 mobil angkutan, 3 rumah yang dikontrakan, 1 rumah yang ditinggali, tiga putri yang berjilbab rapi dan sudah berhaji pula ! (Ya… Allah mudahkanlah saya untuk dapat menunaikan ibadah haji). Namun kesederhanaannya tidak berubah. Beliau masih menyopiri sendiri salah satu angkotnya. Pun keistiqomahannya untuk menyuarakan azan shubuh. Dan jika di masjid,  ada pengumuman  yang memberitahukan adanya sumbangan dari seorang ‘hamba Allah’ yang cukup besar, kemungkinan dari pak Kadri. Beliau pula salah satu donatur tetap beasiswa untuk anak-anak tidak mampu yang dulu pernah saya kelola, yang tidak pernah mau disebutkan namanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;">Saya menjadi terkesiap. Bukankah ini contoh kongkrit <em>watermarking </em>yang ditunjukkan pak Kadri? Jika <em>watermarking</em> yang diseminarkan mahasiswa S1 itu diterapkan pada citra/gambar, bukankah pak Kadri telah berhasil menerapkannya pada amal? Beliau telah melakukan <em>visible watermarking </em>terhadap amalannya  berupa kesederhanaan dan keteguhannya menyuarakan azan shubuh. Orang-orang di sekitar masjid itu tahu, tiap ada azan shubuh, itu adalah suara pak Kadri. Insya Allah malaikat akan mencatatnya sebagai amalan yang baik. Dan yang membuat saya salut, bukankah beliau  telah melakukan <em>invisible watermarking </em>? Beliau berinfak, tanpa mau disebutkan namanya. Pesan infaknya bergema di Masjid tapi tak banyak yang  tahu bahwa itu infak darinya. Namun  malaikat pencatat amal baik pasti tahu, bahwa itu adalah amalan Pak Kadri<span lang="FI">, seorang hamba Allah yang berusaha untuk tetap teguh dalam kesederhanaan, keistiqomahan, dan keikhlasan. </span><span lang="SV">Semoga Allah menetapkannya dalam golongan orang-orang yang sholeh sampai akhir hayatnya. Amiin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span lang="SV">(Ya Allah jadikan pula hamba termasuk dalam golongan orang-orang yang sholeh&#8230;. Amiin)</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wisnuananta.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wisnuananta.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wisnuananta.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wisnuananta.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wisnuananta.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wisnuananta.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wisnuananta.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wisnuananta.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wisnuananta.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wisnuananta.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wisnuananta.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wisnuananta.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wisnuananta.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wisnuananta.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wisnuananta.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wisnuananta.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisnuananta.wordpress.com&amp;blog=3821882&amp;post=5&amp;subd=wisnuananta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/pak-kadri-jagoan-watermarking/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c0660f19aa0b45558e66415b5c5d183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wisnu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Diagram Konteks</title>
		<link>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/belajar-dari-diagram-konteks/</link>
		<comments>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/belajar-dari-diagram-konteks/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 14:54:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu ananta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[diagram konteks]]></category>
		<category><![CDATA[infotainment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisnuananta.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Selama bulan Juni sampai Agustus ini, saya dituntut untuk memiliki tenaga dan kesabaran ekstra. Bulan bulan tersebut biasanya akan banyak kegiatan bimbingan dan ujian sidang mahasiswa diploma. Hampir tiap hari disodori sebuah gambar yang mungkin untuk sebagian dosen terutama saya, kalau mau jujur sudah sangat bosan. Bayangkan saja waktu kuliah S2 dulu ngubek-ngubek gambar ini. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisnuananta.wordpress.com&amp;blog=3821882&amp;post=3&amp;subd=wisnuananta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;">Selama bulan Juni sampai Agustus ini, saya dituntut untuk memiliki tenaga dan kesabaran ekstra. Bulan bulan tersebut biasanya akan banyak kegiatan bimbingan dan ujian sidang mahasiswa diploma. Hampir tiap hari disodori sebuah gambar yang mungkin untuk sebagian dosen terutama saya, kalau mau jujur sudah sangat bosan. Bayangkan saja waktu kuliah S2 dulu ngubek-ngubek gambar ini. Kerja di IPTN melototi gambar ini. Mengajar di Bandung juga berkoar-koar tentang gambar ini. Kalau sedang ‘mroyek’ juga merangkai-rangkai gambar ini.  Sekarang di IPB sering ditanya, terutama oleh mahasiswa, tentang gambar ini.</p>
<p><span lang="SV">            Sebenarnya gambar ini sederhana saja. Hanya terdiri dari sebuah bulatan,  beberapa persegi empat, dan beberapa anak panah yang berasal dari persegi empat tersebut menuju ke bulatan atau sebaliknya. </span>Banyak literatur menyebutnya <em>context diagram </em>(diagram konteks). Ada yang menyebutnya sebagai <em>Data Flow Diagram Level 0</em> (disingkat DFD level 0). Terserah, asal konsisten saja. Tapi jangan tanya… diagram konteks ini bisa bikin mahasiswa ngedumel, jengkel, campur mangkel…Habis tiap bimbingan sama saya gambar ini yang dicoret melulu. “Salah lagi, salah lagi…. Yang bener gimana sih, Pak ?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span lang="SV">Orang-orang yang pernah belajar Rekayasa Perangkat Lunak atau Sistem Informasi pasti akrab dengan istilah Diagram Konteks ini. Diagram ini digunakan untuk menggambarkan ruang lingkup sistem atau bagaimana sistem tersebut berinteraksi dengan lingkungannya. Sistem digambarkan dengan bulatan. Sedangkan lingkungan diwakili oleh entitas luar  yang digambarkan dengan persegi. Interaksi antara sistem dan entitas luar direpresentasikan oleh aliran data yang digambarkan dengan anak panah mengalir dari entitas luar ke sistem (sebagai input) atau sebaliknya dari sistem ke entitas luar (sebagai output).  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span lang="SV">Yang menarik menurut saya adalah, pada banyak literatur, kita tidak boleh menggambarkan aliran data dari entitas luar yang satu ke entitas luar yang lain. Ini yang sering membuat saya agak kesal setiap kali melihat kesalahan ini diulang-ulang oleh mahasiswa. Mereka menggambarkan seluruh interaksi sehingga batasan sistem menjadi kabur. Interaksi antar entitas luar ini tidak perlu digambarkan karena interaksi tersebut berada di luar konteks sistem.  Jadi diagram konteks mengajarkan untuk fokus pada entitas luar yang benar-benar berinteraksi dengan sistem.  Soal apakah antar entitas luar   saling bertukar informasi, tidak perlu dipedulikan !</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span lang="SV">Sedang asyik memikirkan diagram konteks tiba-tiba fikiran saya melocat ke kisah <em>infotainment</em> yang beberapa bulan yang lalu pernah digugat dan diharamkan oleh fatwa NU. Acara ini dinilai menyuburkan budaya gosip dan menyebarkan aib orang lain, suatu kebiasaan buruk yang kontraproduktif. Tapi seperti biasa kalangan pendukung atau konseptor acara ini  tampil dengan berbagai  dalih dan argumentasi  untuk meyakinkan bahwa acara ini tetap layak untuk ditampilkan. Entah apa alasannya, yang jelas banyak ibu-ibu dan remaja-remaja  sampai saat ini masih setia menikmati acara ini.</span><span lang="SV"><br />
        Saya tidak ingin berpanjang-panjang dengan <em>infotainment, </em>yang ingin saya ceritakan adalah sadar atau tidak sadar- meskipun tidak pernah sengaja menonton <em>infotainment, </em>saya ternyata sering memiliki perilaku yang serupa. Di tempat kerja saya  masih sering begitu ingin membicarakan kelemahan dan kesalahan orang lain. Bahkan yang terparah adalah saya kadang-kadang masih merasa  begitu gundah dan ingin selalu menyelidiki urusan orang lain meskipun urusan tersebut tidak berhubungan dengan saya. Alih-alih memikirkan bagaimana langkah  untuk memperbaiki diri dan memperbaiki hubungan dengan orang lain, saya justru sibuk memikirkan sepak terjang orang lain,  ya persis seperti <em>infotainment </em>itu. Dengan begitu energi dan konsentrasi saya terkuras untuk suatu yang tidak bermanfaat. </span><span lang="FI">Lalu apa yang  saya sisakan untuk membangun potensi saya ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span lang="FI">Wah ! Tampaknya saya harus merubah sikap saya terhadap para mahasiswa. Lha gimana mau memarahi mereka yang belum faham mengabstraksikan batasan sistem ke dalam diagram konteks, sedang saya sendiri masih belum faham esensi diagram konteks. Pantesan kalau kuliah Rekayasa Perangkat Lunak mahasiswa-mahasiswa saya pada ngantuk&#8230;.Terus saya marah-marah sendiri. Terus saya keluar ruangan, minta perhatian, supaya ada salah satu mahasiswa yang tidur di kelas menghadap saya merengek-rengek minta dimaafkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span lang="FI">&#8220;Oalah pak Wisnu&#8230;&#8230;. nggak usah deh ngomong tentang diagram konteks yang katanya interaksi antar entitas luar nggak perlu digambarkan, kalau Bapak sendiri masih suka mencari-cari tahu apa  yang dikerjakan orang lain. Dan kebangeten tenan deh, Pak, jika Bapak masih suka mencari-cari kelemahan dan kesalahan orang lain.&#8221; Tiba-tiba mahasiswa-mahasiswa yang tadi pada jengkel sama saya habis bimbingan, ngrubutin dan ’ngobrak-ngabrik&#8217; rambut saya yang sudah kucel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">Deg&#8230;..Dada saya seperti mandeg&#8230;..Untung hanya khayalan saya sendiri&#8230; </span>Selamat berjuang memperbaiki diri&#8230;&#8230;&#8230;.:-)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wisnuananta.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wisnuananta.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wisnuananta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wisnuananta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wisnuananta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wisnuananta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wisnuananta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wisnuananta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wisnuananta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wisnuananta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wisnuananta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wisnuananta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wisnuananta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wisnuananta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wisnuananta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wisnuananta.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisnuananta.wordpress.com&amp;blog=3821882&amp;post=3&amp;subd=wisnuananta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisnuananta.wordpress.com/2008/05/26/belajar-dari-diagram-konteks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6c0660f19aa0b45558e66415b5c5d183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wisnu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
